SELAMAT DATANG DI KABUPATEN BANJARNEGARALAMBANG BANJARNEGAraBanjarnega terjemahan - SELAMAT DATANG DI KABUPATEN BANJARNEGARALAMBANG BANJARNEGAraBanjarnega Inggris Bagaimana mengatakan

SELAMAT DATANG DI KABUPATEN BANJARN

SELAMAT DATANG DI KABUPATEN BANJARNEGARA

LAMBANG BANJARNEGAraBanjarnegara adalah sebuah Pemerintahan Kabupaten yang merupakan bagian dari Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah, Negara Republik Indonesia. Dan ber-Ibukota Banjarnegara. Kota ini tepatnya terletak secara geografis di antara 7° 12' - 7° 31' Lintang Selatan dan 109° 29' - 109° 45'50" Bujur Timur. dengan luas wilayah 1.096,74 km² atau 3,10 % dari luas seluruh Wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Kabupaten Banjarnegara memiliki batas wilayah di utara perbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Batang, di sebelah timur Kabupaten Wonosobo, di selatan Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Purbalingga di sebelah Barat.

Geografi

Bentang alam berdasarkan bentuk tata alam dan penyebaran geografis, wilayah ini dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :

Zona Utara, adalah kawasan pegunungan yang merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, Pegunungan Serayu Utara. Daerah ini memiliki relief yang curam dan bergelombang. Di perbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang terdapat beberapa puncak, seperti Gunung Rogojembangan dan Gunung Prahu. Beberapa

kawasan digunakan sebagai obyek wisata, dan terdapat pula pembangkit listrik tenaga panas bumi. Zona sebelah utara meliputi kecamatan Kalibening, Pandanarum, Wanayasa, Pangetan, Pejawaran, Batur, Karangkobar, Madukara.
Zona Tengah, merupakan zona Depresi Serayu yang cukup subur. Bagian wilayah ini meliputi kecamatan Banjarnegara, Ampelsari Bawang, Purwanegara, Mandiraja, Purworejo, Klampok, Susukan, Wanadadi, Banjarmangu, Rakit.

Zona Selatan, merupakan bagian dari Pegunungan Serayu, merupakan daerah pegunungan yang memiliki relief curam meliputi kecamatan Pagedongan, Banjarnegara, Sigaluh, Mandiraja, Bawang, Susukan.

Topografi

Topografi wilayah ini sebagian besar (65% lebih) berada di ketinggian antara 100 s/d 1000 meter dari permukaan laut. Secara rinci pembagian wilayah berdasarkan topografi.

Kurang dari 100 m dari permukaan air laut, meliputi luas 9,82 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Banjarnegara, meliputi Kecamatan Susukan dan Purworejo Klampok, Mandiraja, Purwanegara dan Bawang..
Antara 100 – 500 m dari permukaan air laut, meliputi luas 37,04 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Banjarnegara, meliputi Punggelan, Wanadadi, Rakit, Madukara, sebagian Susukan, Mandiraja, Purwanegara, Bawang, Pagedongan, Banjarmangu, , dan Banjarnegara.
Antara 500 -1.000 m dari permukaan air laut, meliputi luas 28,74% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Banjarnegara, meliputi Kecamatan Sigaluh, sebagian Banjarnegara, Pagedongan dan Banjarmangu.
Lebih dari 1.000 m dari permukaan air laut, meliputi luas 24,40% dari seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara meliputi kecamatan Pejawaran, Batur, Wanayasa, Kalibening, Pandanarum, Karangkobar, dan Pangentan.

Sungai Serayu mengalir menuju ke Barat, serta anak-anak sungainya termasuk Kali Tulis, Kali Merawu, Kali Pekacangan, Kali Gintung, dan kali Sapi. Sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber irigasi pertanian.

Wilayah kabupaten Banjarnegara memiliki iklim tropis, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/tahun, serta suhu rata-rata 20°- 26 °C.

Sejarah

Secara historis, Kabupaten Banjarnegara berdiri setelah perang diponegoro berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I, dengan bupati R.Tumenggung Dipoyudo IV atas usul Sri Susuhunan Pakubuwono VII karena jasanya terhadap Mataram.

R.Tumenggung Dipoyuda menjabat Bupati sampai tahun 1846, kemudian diganti R. Adipati Dipodiningkrat, tahun 1878 pensiun. Penggantinya diambil dari luar Kabupaten Banjarnegara. Gubermen (pemerintahan) mengangkat Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Kabupaten Purworejo(Bangelan) I Gung Kalopaking di panjer (Kebumen) sebagai penggantinya dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. Dia mendapat ganjaran pangkat "Adipati" dan tanda kehormatan "Bintang Mas" Tahun 1896 dia wafat diganti putranya Raden Mas Jayamisena, Wedana distrik Singomerto (Banjarnegara) dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung JayanegaraII. Dari pemerintahan Belanda Raden Tumenggung Jayanegara II mendapat anugrah pangkat "Adipati Aria" Payung emas Bintang emas besar, Officer Oranye. Pada tahun 1927 dia berhenti, pensiun. Penggantinya putra dia Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang juga mendapat anugrah sebutan Tumenggung Aria, dia keturunan kanjeng R. Adipati Dipadingrat, berarti kabupaten kembali kepada keturunan para penguasa terdahulu. Diantara para Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking yang menghayati 3 zaman, yaitu zaman Hindia Belanda, Jepang dan RI, dan menghayati serta menangani langsung Gelora Revolusi Nasional (1945 - 1949). Ia mengalami sebutan "Gusti Kanjeng Bupati", lalu "Banjarnegara Ken Cho" dan berakhir "Bapak Bupati". Selanjutnya yang menjadi Bupati setelah Raden Aria Sumtro Kolopaking Purbonegoro ialah : R. Adipati Dipadiningrat (1846-1878)

Mas Ngabehi Atmodipuro (1878-1896)
Raden Mas Jayamisena (1896-1927)
Raden Su
0/5000
Dari: -
Ke: -
Hasil (Inggris) 1: [Salinan]
Disalin!
WELCOME TO THE BANJARNEGARA DISTRICTThe SYMBOL BANJARNEGAraBanjarnegara is a Government District which is part of the Government of the province of Central Java, Republic of Indonesia. And apparent-the capital city itself. The city is located geographically exactly between 7 ° 12 '-7 ° 31 ' South latitude and 109 ° 29 '-109 ° 45 ' 50 "East longitude. with an area of 1096.74 km² or 3.10% of the entire territory of the province of Central Java.Banjarnegara district has borders in the North on the border with Pekalongan and Batang, East of Wonosobo Regency to the South Kebumen, Banyumas and Purbalingga regencies (Kabupaten) and in the West.GeographyLandform based on form grammar nature and geographical spread, the region can be divided into 3 parts, namely:The North zone is the area of the mountains are part of the Dieng plateau, North Serayu Mountains. This region has a steep and rugged relief. On the border with Pekalongan and Batang there were several peaks, such as mount Rogojembangan and mount Sailing. Some the area is used as a tourist attraction, and there is also a geothermal power plant. The northern zone includes Kalibening village, Pandanarum sub-district, Wanayasa, Pangetan, Pejawaran, Batur, Karangkobar, Madukara. The middle zone, the zone is a fairly lush Serayu Depression. Part of this area includes the Sub District of Banjarnegara, Ampelsari onion, Purwanegara, Mandiraja, Purworejo Klampok, Susukan,, Wanadadi, Banjarmangu, Raft.Zona Selatan, merupakan bagian dari Pegunungan Serayu, merupakan daerah pegunungan yang memiliki relief curam meliputi kecamatan Pagedongan, Banjarnegara, Sigaluh, Mandiraja, Bawang, Susukan.TopografiTopografi wilayah ini sebagian besar (65% lebih) berada di ketinggian antara 100 s/d 1000 meter dari permukaan laut. Secara rinci pembagian wilayah berdasarkan topografi. Kurang dari 100 m dari permukaan air laut, meliputi luas 9,82 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Banjarnegara, meliputi Kecamatan Susukan dan Purworejo Klampok, Mandiraja, Purwanegara dan Bawang.. Antara 100 – 500 m dari permukaan air laut, meliputi luas 37,04 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Banjarnegara, meliputi Punggelan, Wanadadi, Rakit, Madukara, sebagian Susukan, Mandiraja, Purwanegara, Bawang, Pagedongan, Banjarmangu, , dan Banjarnegara. Antara 500 -1.000 m dari permukaan air laut, meliputi luas 28,74% dari seluruh luas wilayah Kabupaten Banjarnegara, meliputi Kecamatan Sigaluh, sebagian Banjarnegara, Pagedongan dan Banjarmangu. Lebih dari 1.000 m dari permukaan air laut, meliputi luas 24,40% dari seluruh wilayah Kabupaten Banjarnegara meliputi kecamatan Pejawaran, Batur, Wanayasa, Kalibening, Pandanarum, Karangkobar, dan Pangentan.Sungai Serayu mengalir menuju ke Barat, serta anak-anak sungainya termasuk Kali Tulis, Kali Merawu, Kali Pekacangan, Kali Gintung, dan kali Sapi. Sungai tersebut dimanfaatkan sebagai sumber irigasi pertanian.Wilayah kabupaten Banjarnegara memiliki iklim tropis, dengan curah hujan rata-rata 3.000 mm/tahun, serta suhu rata-rata 20°- 26 °C.SejarahSecara historis, Kabupaten Banjarnegara berdiri setelah perang diponegoro berdasarkan Resolutie Governeor General Buitenzorg tanggal 22 agustus 1831 nomor I, dengan bupati R.Tumenggung Dipoyudo IV atas usul Sri Susuhunan Pakubuwono VII karena jasanya terhadap Mataram.R.Tumenggung Dipoyuda menjabat Bupati sampai tahun 1846, kemudian diganti R. Adipati Dipodiningkrat, tahun 1878 pensiun. Penggantinya diambil dari luar Kabupaten Banjarnegara. Gubermen (pemerintahan) mengangkat Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Kabupaten Purworejo(Bangelan) I Gung Kalopaking di panjer (Kebumen) sebagai penggantinya dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. Dia mendapat ganjaran pangkat "Adipati" dan tanda kehormatan "Bintang Mas" Tahun 1896 dia wafat diganti putranya Raden Mas Jayamisena, Wedana distrik Singomerto (Banjarnegara) dan bergelar Kanjeng Raden Tumenggung JayanegaraII. Dari pemerintahan Belanda Raden Tumenggung Jayanegara II mendapat anugrah pangkat "Adipati Aria" Payung emas Bintang emas besar, Officer Oranye. Pada tahun 1927 dia berhenti, pensiun. Penggantinya putra dia Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, yang juga mendapat anugrah sebutan Tumenggung Aria, dia keturunan kanjeng R. Adipati Dipadingrat, berarti kabupaten kembali kepada keturunan para penguasa terdahulu. Diantara para Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking yang menghayati 3 zaman, yaitu zaman Hindia Belanda, Jepang dan RI, dan menghayati serta menangani langsung Gelora Revolusi Nasional (1945 - 1949). Ia mengalami sebutan "Gusti Kanjeng Bupati", lalu "Banjarnegara Ken Cho" dan berakhir "Bapak Bupati". Selanjutnya yang menjadi Bupati setelah Raden Aria Sumtro Kolopaking Purbonegoro ialah : R. Adipati Dipadiningrat (1846-1878) Mas Ngabehi Atmodipuro (1878-1896) Raden Mas Jayamisena (1896-1927) Raden Su
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
Hasil (Inggris) 2:[Salinan]
Disalin!
WELCOME IN THE DISTRICT BANJARNEGARA SYMBOL BANJARNEGAraBanjarnegara is a County Government, which is part of the Government of Central Java Province, Republic of Indonesia. And air-Capital Banjarnegara. The city is geographically located precisely between 7 ° 12 '- 7 ° 31' south latitude and 109 ° 29 '- 109 ° 45'50 "east longitude, with an area of 1096.74 square kilometers or 3.10% of the entire region Central Java Province. Banjarnegara has borders in the north border with Pekalongan and Batang, in the east of Wonosobo, in the south Kebumen and Banyumas and Purbalingga west. Geography The landscape is based on the form of governance of natural and geographical spread, this region can be divided into 3 parts, namely: North Zone, is a mountainous region that is part of the Dieng Plateau, Serayu Mountains north. The area has a relief steep and bumpy. On the border with the District of Pekalongan and Batang regency there are several peaks, such as Mount Rogojembangan and Mount Prahu. Some of the area is used as a tourist attraction, and there is also generating geothermal power. Zone north includes districts Kalibening, Pandanarum, Wanayasa, Pangetan, Pejawaran, Batur, Karangkobar, Madukara, Central Zone, a zone of depression Serayu are quite fertile. Parts of the region includes the districts Banjarnegara, Ampelsari Onions, Purwanegara, Mandiraja, Purworejo, Klampok, Susukan, Wanadadi, Banjarmangu, rafts, South Zone, is part of Serayu Mountains, a mountainous area that has a relief steep includes districts Pagedongan, Banjarnegara, Sigaluh, Mandiraja, Onions, Susukan. Topography The topography of the area is largely (65% more) at an altitude of between 100 s / d 1000 meters above sea level. In detail the division of the region based on topography. Less than 100 m above sea level, covering 9.82% of the entire area of Banjarnegara, covering Sub Susukan and Purworejo Klampok, Mandiraja, Purwanegara and Onions .. Between 100-500 m from the surface sea ​​water, covering 37.04% of the entire area of Banjarnegara, covering Punggelan, Wanadadi, Raft, Madukara, partly Susukan, Mandiraja, Purwanegara, Onions, Pagedongan, Banjarmangu, and Banjarnegara. Between 500 -1000 m from the surface of the water sea, covering 28.74% of the entire area of Banjarnegara, covering Sub Sigaluh, partly Banjarnegara, Pagedongan and Banjarmangu. More than 1,000 m above sea level, covering 24.40% of the entire territory of Banjarnegara district includes districts Pejawaran, Batur, Wanayasa, Kalibening, Pandanarum, Karangkobar, and Pangentan. Serayu flows to the West, and its tributaries, including Kali Write, Merawu Kali, Kali Pekacangan, Kali Gintung, and time Cow. The river is used as a source of agricultural irrigation. The area district Banjarnegara has a tropical climate, with rainfall average of 3,000 mm / year, and an average temperature of 20 ° - 26 ° C. History Historically, Banjarnegara standing after the war diponegoro based Resolutie Governeor General Buitenzorg dated 22 August 1831 the first number, the regents R.Tumenggung Dipoyudo IV on the proposal of His Majesty Sri Pakubuwono VII because of his services to Mataram. R.Tumenggung Dipoyuda served as regent until 1846, then replaced R. Duke Dipodiningkrat, 1878 retirement. His replacement was taken from outside Banjarnegara. The Government (government) raised Mas Ngabehi Atmodipuro, patih Purworejo (Bangelan) I Gung Kalopaking in panjer (Kebumen) as his successor and holds Kanjeng Raden Tumenggung Jayanegara I. He rewarded the rank of "Duke" and honors "Bintang Mas" In 1896 he died replaced his son Raden Mas Jayamisena, district Wedana Singomerto (Banjarnegara) and holds Kanjeng Raden Tumenggung JayanegaraII. From the Dutch government Raden Tumenggung grace Jayanegara II received the rank of "Duke Aria" big gold star gold umbrellas, Officer Orange. In 1927 he quit, retire. His successor his son Raden Sumitro Kolopaking Purbonegoro, which also received the designation grace Tumenggung Aria, her offspring Kanjeng Dipadingrat R. Duke, means the district back to the descendants of previous rulers. Among the Bupati Banjarnegara, Arya Sumitro Kolopaking who live three times, namely the time of the Dutch East Indies, Japan and Indonesia, and to live and deal direct Stadium National Revolution (1945-1949). He experienced as "Gusti Kanjeng Regent", then "Banjarnegara Ken Cho" and ending "Regent". Furthermore, the regent after Raden Aria Sumtro Kolopaking Purbonegoro is: R. Duke Dipadiningrat (1846-1878) Mas Ngabehi Atmodipuro (1878-1896) Raden Mas Jayamisena (1896-1927) Raden Su





































Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
 
Bahasa lainnya
Dukungan alat penerjemahan: Afrikans, Albania, Amhara, Arab, Armenia, Azerbaijan, Bahasa Indonesia, Basque, Belanda, Belarussia, Bengali, Bosnia, Bulgaria, Burma, Cebuano, Ceko, Chichewa, China, Cina Tradisional, Denmark, Deteksi bahasa, Esperanto, Estonia, Farsi, Finlandia, Frisia, Gaelig, Gaelik Skotlandia, Galisia, Georgia, Gujarati, Hausa, Hawaii, Hindi, Hmong, Ibrani, Igbo, Inggris, Islan, Italia, Jawa, Jepang, Jerman, Kannada, Katala, Kazak, Khmer, Kinyarwanda, Kirghiz, Klingon, Korea, Korsika, Kreol Haiti, Kroat, Kurdi, Laos, Latin, Latvia, Lituania, Luksemburg, Magyar, Makedonia, Malagasi, Malayalam, Malta, Maori, Marathi, Melayu, Mongol, Nepal, Norsk, Odia (Oriya), Pashto, Polandia, Portugis, Prancis, Punjabi, Rumania, Rusia, Samoa, Serb, Sesotho, Shona, Sindhi, Sinhala, Slovakia, Slovenia, Somali, Spanyol, Sunda, Swahili, Swensk, Tagalog, Tajik, Tamil, Tatar, Telugu, Thai, Turki, Turkmen, Ukraina, Urdu, Uyghur, Uzbek, Vietnam, Wales, Xhosa, Yiddi, Yoruba, Yunani, Zulu, Bahasa terjemahan.

Copyright ©2025 I Love Translation. All reserved.

E-mail: