Dahulu, Pegunungan Ijen merupakan bagian dari kerajaan Blambangan. Nam terjemahan - Dahulu, Pegunungan Ijen merupakan bagian dari kerajaan Blambangan. Nam Inggris Bagaimana mengatakan

Dahulu, Pegunungan Ijen merupakan b

Dahulu, Pegunungan Ijen merupakan bagian dari kerajaan Blambangan. Nama Blambangan mencuat dalam sejarah ketika rajanya yang bernama Menak Jinggo menolak mengakui kekuasaan Majapahit. Sehingga menyebakan peperangan antara kerajaan Blambangan dan kerajaan Majapahit. Menak Jinggo berhasil dikalahkan oleh Dhamarwulan, pemuda dari rakyat biasa yang mampu bertarung dan menghabisi musuh – musuhnya. Dengan kegigihan Dhamarwulan akhirnya dia dapat mempersunting Ratu Majapahit, Dewi Kencono Wungu, dan menjadi raja. Setelah kalah, pegunungan Ijen kian menjadi bagian dari kerajaan Majapahit, yang sampai sekarang terkenal dengan kejayaannya.
Nama Ijen juga disebut–sebut ketika seorang pangeran dari Kerajaan Wilis, bergerilya melawan VOC dari balik lereng pegunungan Ijen pada tahun 1722. Ijen merupakan tempat yang paling ideal untuk persembunyian bagi para pemberontak. Tanahnya yang berkelok dan di penuhi hutan lebat, memang sangat menakutkan, bahkan terkesan angker. Wilayah ini pun kononnya tidak bertuan.
Wilayah Ijen mulai tersentuh ketika seoraang penguasa dari Belaanda menyewakan tanah di Indonesia kepada seoraang kapten dari Cina, Han Ki Ko, yaang tinggal di Surabayaa serta terkenal sangat kaya. Tanah yang disewakan ini juga termasuk wilayah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan sekitarnya. Untuk menarik mina tpekerja, kompeni tersebut membagi–bagikan beras secara gratis pada saat penduduk mengalami kelaparan. Maka datangalah beribu – ribu pekerja asal Madura dalam waktu yang singkat. Para pekerja tersebut mulai menanam segala macam sayuran dan padi dengan menggunakan sistem irigasi. Namunpada tahun 1813 para pekerja tersebut melakukan pemberontakan dengan dipelopori oleh Kiai Mas.
Akhir abad ke-19 Belanda memaksa membuka kembali lahan tersebut untuk dijadikan perkebuanan kopi daan karet. Didatangkan lagi ribuan pekerja asal Madura. Dengan hal ini, maka terciptalah ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura. Mereka membawa adat, budaya, dan bahasanya. Madura kecilini, samapi saat ini masih bisa kita jumpai di sebagian wilayah Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Itulah sekelumit cerita tentang pegunungan Ijen pada zaman dahulu.
0/5000
Dari: -
Ke: -
Hasil (Inggris) 1: [Salinan]
Disalin!
In the past, the mountains of the Ijen is part of Blambangan. The name of Blambangan sticking in history when its king named Menak Jinggo refused to concede power. So the menyebakan war between the Kingdom of Majapahit and Blambangan. Menak Jinggo defeated by Dhamarwulan, the young man of the common people who were able to fight and suppress the enemy – his enemies. With the persistence of Dhamarwulan he finally can mempersunting the Queen of Majapahit, Goddess Yes Wungu, and became King. After the defeat, the Ijen increasingly become part of the Majapahit Empire, which until now was made famous by his victory.The name of the Ijen also disebut–sebut when a Prince from the Kingdom of Wilis, told against the VOC from behind the mountain slopes of the Ijen in 1722. Ijen is the most ideal place to hideout for the rebels. The soil is a meandering and dense forests supplied, is indeed very frightening, even impressed the armature. This area is alleged not staging.Wilayah Ijen mulai tersentuh ketika seoraang penguasa dari Belaanda menyewakan tanah di Indonesia kepada seoraang kapten dari Cina, Han Ki Ko, yaang tinggal di Surabayaa serta terkenal sangat kaya. Tanah yang disewakan ini juga termasuk wilayah Besuki, Panarukan, Probolinggo dan sekitarnya. Untuk menarik mina tpekerja, kompeni tersebut membagi–bagikan beras secara gratis pada saat penduduk mengalami kelaparan. Maka datangalah beribu – ribu pekerja asal Madura dalam waktu yang singkat. Para pekerja tersebut mulai menanam segala macam sayuran dan padi dengan menggunakan sistem irigasi. Namunpada tahun 1813 para pekerja tersebut melakukan pemberontakan dengan dipelopori oleh Kiai Mas.Akhir abad ke-19 Belanda memaksa membuka kembali lahan tersebut untuk dijadikan perkebuanan kopi daan karet. Didatangkan lagi ribuan pekerja asal Madura. Dengan hal ini, maka terciptalah ‘Madura kecil’ yang menjadi pusat pemukiman orang Madura. Mereka membawa adat, budaya, dan bahasanya. Madura kecilini, samapi saat ini masih bisa kita jumpai di sebagian wilayah Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.Itulah sekelumit cerita tentang pegunungan Ijen pada zaman dahulu.
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
 
Bahasa lainnya
Dukungan alat penerjemahan: Afrikans, Albania, Amhara, Arab, Armenia, Azerbaijan, Bahasa Indonesia, Basque, Belanda, Belarussia, Bengali, Bosnia, Bulgaria, Burma, Cebuano, Ceko, Chichewa, China, Cina Tradisional, Denmark, Deteksi bahasa, Esperanto, Estonia, Farsi, Finlandia, Frisia, Gaelig, Gaelik Skotlandia, Galisia, Georgia, Gujarati, Hausa, Hawaii, Hindi, Hmong, Ibrani, Igbo, Inggris, Islan, Italia, Jawa, Jepang, Jerman, Kannada, Katala, Kazak, Khmer, Kinyarwanda, Kirghiz, Klingon, Korea, Korsika, Kreol Haiti, Kroat, Kurdi, Laos, Latin, Latvia, Lituania, Luksemburg, Magyar, Makedonia, Malagasi, Malayalam, Malta, Maori, Marathi, Melayu, Mongol, Nepal, Norsk, Odia (Oriya), Pashto, Polandia, Portugis, Prancis, Punjabi, Rumania, Rusia, Samoa, Serb, Sesotho, Shona, Sindhi, Sinhala, Slovakia, Slovenia, Somali, Spanyol, Sunda, Swahili, Swensk, Tagalog, Tajik, Tamil, Tatar, Telugu, Thai, Turki, Turkmen, Ukraina, Urdu, Uyghur, Uzbek, Vietnam, Wales, Xhosa, Yiddi, Yoruba, Yunani, Zulu, Bahasa terjemahan.

Copyright ©2025 I Love Translation. All reserved.

E-mail: