jur saja, siapapun penderitanya mengatakan apa adanya pada pasangan, dan masing-masing harus segera bicara dari hati ke hati apabila salah satu pihak mengalami masalah gangguan seksual. Beberapa gangguan seksual, antara lain seperti genital nyeri panggul atau penetrasi disorder sebagaimana disebut di atas, tidak bisa dianggap enteng karena akan berdampak pada hubungan interpersonal. Kondisi ini tidak akan lebih baik jika hanya disikapi dengan berdiam saja. Bisa saja ujung-ujungnya terjadi sebuah gangguan mental non-seksual misalnya, gangguan stress pasca trauma. Atau bahkan, dapat mengakibatkan hubungan distress, yaitu KDRT. Stres kehidupan lain berdampak hasrat seksual sesorang menjadi abnormal. Tak pernah dapat diprediksi kapan itu bisa muncul. Yang jelas, gejala mungkin muncul segera setelah orang menjadi aktif secara seksual, atau mungkin mulai setelah periode fungsi seksual yang normal. Kondisi ini, bisa ditetapkan sebagai gejala gangguan ringan, sedang atau berat tergantung pada jumlah akumulasi yang menyebabkan tekanan subyektif. (Bb. Eko Sugiharto)
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
