Asal Mula Danau LimbotoDanau Limboto merupakan sebuah danau yang terle terjemahan - Asal Mula Danau LimbotoDanau Limboto merupakan sebuah danau yang terle Prancis Bagaimana mengatakan

Asal Mula Danau LimbotoDanau Limbot

Asal Mula Danau Limboto
Danau Limboto merupakan sebuah danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo Indonesia. Dulunya, danau ini bernama Bulalo lo limu o tutu, yang berarti danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, keberadaan danau seluas kurang lebih 3.000 hektar ini disebabkan oleh sebuah peristiwa ajaib yang terjadi di daerah itu. Peristiwa apakah yang menyebabkan terjadinya Danau Limboto? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Danau Limboto berikut ini!
* * *
Dahulu, daerah Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Di tengahnya terdapat dua buah gunung yang tinggi, yaitu Gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila. Kedua gunung tersebut merupakan petunjuk arah bagi masyarakat yang akan memasuki Gorontalo melalui jalur laut. Gunung Bilohuto menunjukkan arah barat, sedangkan Gunung Tilongkabila menunjukkan arah timur.
Pada suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi daratan. Tak beberapa lama kemudian, kawasan itu berubah menjadi hamparan hutan yang sangat luas. Di beberapa tempat masih terlihat adanya air laut tergenang, dan di beberapa tempat yang lain muncul sejumlah mata air tawar, yang kemudian membentuk genangan air tawar. Salah satu di antara mata air tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan sejuk. Mata air yang berada di tengah-tengah hutan dan jarang dijamah oleh manusia tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini sering didatangi oleh tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan untuk mandi dan bermain sembur-semburan air.
Pada suatu hari, ketika ketujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan bersendau gurau di sekitar mata air Tupalo tersebut, seorang pemuda tampan bernama Jilumoto melintas di tempat itu. Jilumoto dalam bahasa setempat berarti seorang penduduk kahyangan berkunjung ke bumi dengan menjelma menjadi manusia. Melihat ketujuh bidadari tersebut, Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik pohon itu, ia memerhatikan ketujuh bidadari yang sedang asyik mandi sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.
“Aduhai.... cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub.
Melihat kecantikan para bidadari tersebut, Jilumoto tiba-tiba timbul niatnya untuk mengambil salah satu sayap mereka yang diletakkan di atas batu besar, sehingga si pemilik sayap itu tidak dapat terbang kembali ke kahyangan. Dengan begitu, maka ia dapat memperistrinya. Ketika para bidadari tersebut sedang asyik bersendau gurau, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah berhasil mengambil salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu kembali bersembunyi di balik pohon besar.
Ketika hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan bersiap-siap untuk pulang ke Kahyangan. Setelah memakai kembali sayap masing-masing, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah seorang di antara mereka masih tampak kebingungan mencari sayapnya.
“Hai, Adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap Kakak?”.
Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari tertua yang bernama Mbu`i Bungale. Keenam adiknya segera membantu sang Kakak untuk mencari sayap yang hilang tersebut. Mereka telah mencari ke sana kemari, namun sayap tersebut belum juga ditemukan. Karena hari mulai gelap, keenam bidadari itu pergi meninggalkan sang Kakak seorang diri di dekat Mata Air Tupalo.
“Kakak.. jaga diri Kakak baik-baik!” seru bidadari yang bungsu.
“Adikku...! Jangan tinggalkan Kakak!” teriak Mbu`i Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang menuju ke angkasa.
Keenam adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggallah Mbu`i Bungale seorang diri di tengah hutan. Hatinya sangat sedih, karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya di Kahyangan. Beberapa saat kemudian, Jilumoto keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Mbu`i Bungale.
“Hai, Bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui keadaan sebenarnya.
“Sayapku hilang, Bang! Adik tidak bisa lagi kembali ke Kahyangan,” jawab Mbu`i Bungale.
Mendengar jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu`i Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah dengan Jilumoto. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di bumi. Mereka pun mencari tanah untuk bercocok tanam. Setelah berapa lama mencari, akhirnya sepasang suami-istri itu menemukan sebuah bukit yang terletak tidak jauh dari Mata Air Tupalo. Di atas bukit itulah mereka mendirikan sebuah rumah sederhana dan berladang dengan menanam berbagai macam jenis tanaman yang dapat dimakan. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti`opo atau Bukit Kapas..
Pada suatu hari, Mbu`i Bungali mendapat kiriman Bimelula, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari Kahyangan. Bimelula itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengan sehelai tolu atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah timur yang melintas dan melihat mati air Tupalo tersebut. Begitu melihat air yang jernih dan dingin itu, mereka segera meminumnya karena kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Usai minum, salah seorang di antara mereka melihat ada tudung tergeletak di dekat mata air Tupalo.
“Hai, kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankah itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu.
“Benar, kawan! Itu adalah tudung,” kata seorang pelancong lainnya.
“Aneh, kenapa ada tudung di tengah hutan yang sepi ini?” sahut pelancong yang lainnya dengan heran.
Oleh Karena penasaran, mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud untuk menangkatnya. Namun, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu, tiba-tiba badai dan angin topan sangat dahsyat datang menerjang, kemudian disusul dengan hujan yang sangat deras. Keempat pelancong itu pun berlarian mencari perlindungan agar terhindar dari marabahaya. Untungnya, badai dan angin topan tersebut tidak berlangsung lama, sehingga mereka dapat selamat.
Setelah badai dan hujan berhenti, keempat pelancong itu kembali ke mata air Tupalo. Mereka melihat tudung itu masih terletak pada tempatnya semula. Oleh karena masih penasaran ingin mengetahui benda yang ditutupi tudung itu, mereka pun bermaksud ingin mengangkat tudung itu. Sebelum mengangkatnya, mereka meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar badai dan topan tidak kembali terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika mengangkat tudung itu. Mereka melihat sebuah benda bulat, yang tak lain adalah mustika Bimelula. Mereka pun tertarik dan berkeinginan untuk memiliki mustika itu. Namun begitu mereka akang mengambil mustika Bimelula itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale datang bersama suaminya, Jilumoto.
“Maaf, Tuan-Tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk mengambilnya, karena benda itu milik kami!” pinta Mbu`i Bungale.
“Hei, siapa kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong.
“Saya Mbu`i Bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu,” jawab Mbu`i Bungale dengan tenang.
“Hai, Mbu`i Bungale! Tempat ini adalah milik kami. Jadi, tak seorang pun yang boleh mengambil barang-barang yang ada di sini, termasuk mustika ini!” bentak pemimpin pelancong itu.
“Apa buktinya bahwa tempat ini dan mustika itu milik kalian?” tanya Mbui`i Bungale.
Pemimpin pelancong itu pun menjawab:
“Kalian mau lihat buktinya? Lihatlah sepah pinang di atas tudung itu! Kamilah yang telah memberinya,” ujar pemimpin pelancong.
Mendengar pengakuan para pelancong tersebut, Mbu`i Bungale hanya tersenyum.
“Hai, aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama makhluk di dunia ini. Bukan diberikan kepada orang-orang tamak dan rakus seperti kalian. Tapi, jika memang benar kalian pemilik dan penguasa di tempat ini, perluaslah mata air ini! Keluarkanlah seluruh kemampuan kalian, aku siap untuk menantang kalian!” seru Mbu`i Bungale.
Keempat pelancong itu pun bersedia menerima tantangan Mbu`i Bungale. Si pemimpin pelancong segera membaca mantradan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
“Wei mata air Kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya.
Berkali-kali pemimpin pelancong itu membaca mantranya, namun tak sedikit pun menunjukkan adanya tanda-tanda mata air itu akan meluas dan membesar. Melihat pemimpin mereka sudah mulai kehabisan tenaga, tiga anak buah pelancong tersebut segera membantu. Meski mereka telah menyatukan kekuatan dan kesaktian, namun mata air Tupalo tidak berubah sedikit pun. Lama-kelamaan keempat pelancong pun tersebut kehabisan tenaga. Melihat mereka kelelahan dan bercucuran keringat, Mbu`i Bungale kembali tersenyum.
“Hai, kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu milik kalian! Atau jangan-jangan kalian sudah menyerah!” seru Mbu`i Bungale.
“Diam kau, hai perempuan cerewet! Jangan hanya pandai bicara!” sergah pemimpin pelancong itu balik menantang Mbu`i Bungale. “Jika kamu pemilik mata air ini, buktikan pula kepada kami!”
“Baiklah, Tuan-Tuan! Ketahuilah bahwa Tuhan Maha Tahu mana hambanya yang benar, permintaannya akan dikabulkan!” ujar jawab Mbu`i Bungale dengan penuh keyakinan.
Usai berkata begitu, Mbu`i Bungale segera duduk bersila di samping suaminya seraya bersedekap. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa.
“Woyi, air kehidupan, mata air sakti, mata air yang memiliki berkah. Melebar dan meluaslah wahai mata air para bidadari.... membesarlah....!!!” demikian doa Mbu`i Bungale.
Usai berdoa, Mbu`i Bungale segera mengajak suaminya dan memerintahkan keempat pelancong tersebut untuk naik ke atas pohon yang paling tinggi, karena sebentar lagi kawasan itu akan tenggelam. Doa Mbu`i Bungale pun dikabulkan. Beberapa saat kemudian, perut bumi tiba-tiba bergemuruh, tanah bergetar dan menggelegar. Perlahan-lahan mata air Tupalo melebar dan meluas, kemudian menyemburkan air yang sangat deras. Dal
0/5000
Dari: -
Ke: -
Hasil (Prancis) 1: [Salinan]
Disalin!
Asal Mula Danau LimbotoDanau Limboto merupakan sebuah danau yang terletak di Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo Indonesia. Dulunya, danau ini bernama Bulalo lo limu o tutu, yang berarti danau dari jeruk yang berasal dari Kahyangan. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, keberadaan danau seluas kurang lebih 3.000 hektar ini disebabkan oleh sebuah peristiwa ajaib yang terjadi di daerah itu. Peristiwa apakah yang menyebabkan terjadinya Danau Limboto? Ikuti kisahnya dalam cerita Asal Mula Danau Limboto berikut ini!* * *Dahulu, daerah Limboto merupakan hamparan laut yang luas. Di tengahnya terdapat dua buah gunung yang tinggi, yaitu Gunung Boliohuto dan Gunung Tilongkabila. Kedua gunung tersebut merupakan petunjuk arah bagi masyarakat yang akan memasuki Gorontalo melalui jalur laut. Gunung Bilohuto menunjukkan arah barat, sedangkan Gunung Tilongkabila menunjukkan arah timur.Pada suatu ketika, air laut surut, sehingga kawasan itu berubah menjadi daratan. Tak beberapa lama kemudian, kawasan itu berubah menjadi hamparan hutan yang sangat luas. Di beberapa tempat masih terlihat adanya air laut tergenang, dan di beberapa tempat yang lain muncul sejumlah mata air tawar, yang kemudian membentuk genangan air tawar. Salah satu di antara mata air tersebut mengeluarkan air yang sangat jernih dan sejuk. Mata air yang berada di tengah-tengah hutan dan jarang dijamah oleh manusia tersebut bernama Mata Air Tupalo. Tempat ini sering didatangi oleh tujuh bidadari bersaudara dari Kahyangan untuk mandi dan bermain sembur-semburan air. Pada suatu hari, ketika ketujuh bidadari tersebut sedang asyik mandi dan bersendau gurau di sekitar mata air Tupalo tersebut, seorang pemuda tampan bernama Jilumoto melintas di tempat itu. Jilumoto dalam bahasa setempat berarti seorang penduduk kahyangan berkunjung ke bumi dengan menjelma menjadi manusia. Melihat ketujuh bidadari tersebut, Jilumoto segera bersembunyi di balik sebuah pohon besar. Dari balik pohon itu, ia memerhatikan ketujuh bidadari yang sedang asyik mandi sampai matanya tidak berkedip sedikitpun.“Aduhai.... cantiknya bidadari-bidadari itu!” gumam Jilumoto dengan takjub.Melihat kecantikan para bidadari tersebut, Jilumoto tiba-tiba timbul niatnya untuk mengambil salah satu sayap mereka yang diletakkan di atas batu besar, sehingga si pemilik sayap itu tidak dapat terbang kembali ke kahyangan. Dengan begitu, maka ia dapat memperistrinya. Ketika para bidadari tersebut sedang asyik bersendau gurau, perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tempat sayap-sayap tersebut diletakkan. Setelah berhasil mengambil salah satu sayap bidadari tersebut, pemuda tampan itu kembali bersembunyi di balik pohon besar.Ketika hari menjelang sore, ketujuh bidadari tersebut selesai mandi dan bersiap-siap untuk pulang ke Kahyangan. Setelah memakai kembali sayap masing-masing, mereka pun bersiap-siap terbang ke angkasa. Namun, salah seorang di antara mereka masih tampak kebingungan mencari sayapnya.“Hai, Adik-adikku! Apakah kalian melihat sayap Kakak?”.Rupanya, bidadari yang kehilangan sayap itu adalah bidadari tertua yang bernama Mbu`i Bungale. Keenam adiknya segera membantu sang Kakak untuk mencari sayap yang hilang tersebut. Mereka telah mencari ke sana kemari, namun sayap tersebut belum juga ditemukan. Karena hari mulai gelap, keenam bidadari itu pergi meninggalkan sang Kakak seorang diri di dekat Mata Air Tupalo.“Kakak.. jaga diri Kakak baik-baik!” seru bidadari yang bungsu.“Adikku...! Jangan tinggalkan Kakak!” teriak Mbu`i Bungale ketika melihat keenam adiknya sedang terbang menuju ke angkasa.Keenam adiknya tersebut tidak menghiraukan teriakannya. Tinggallah Mbu`i Bungale seorang diri di tengah hutan. Hatinya sangat sedih, karena ia tidak bisa bertemu lagi dengan keluarganya di Kahyangan. Beberapa saat kemudian, Jilumoto keluar dari tempat persembunyiannya dan segera menghampiri Mbu`i Bungale.“Hai, Bidadari cantik! Kenapa kamu bersedih begitu?” tanya Jilumoto dengan berpura-pura tidak mengetahui keadaan sebenarnya.“Sayapku hilang, Bang! Adik tidak bisa lagi kembali ke Kahyangan,” jawab Mbu`i Bungale.Mendengar jawaban itu, tanpa berpikir panjang Jilumoto segera mengajak Mbu`i Bungale untuk menikah. Bidadari yang malang itu pun bersedia menikah dengan Jilumoto. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal bersama di bumi. Mereka pun mencari tanah untuk bercocok tanam. Setelah berapa lama mencari, akhirnya sepasang suami-istri itu menemukan sebuah bukit yang terletak tidak jauh dari Mata Air Tupalo. Di atas bukit itulah mereka mendirikan sebuah rumah sederhana dan berladang dengan menanam berbagai macam jenis tanaman yang dapat dimakan. Mereka menamai bukit itu Huntu lo Ti`opo atau Bukit Kapas..Pada suatu hari, Mbu`i Bungali mendapat kiriman Bimelula, yaitu sebuah mustika sebesar telur itik dari Kahyangan. Bimelula itu ia simpan di dekat mata air Tupalo dan menutupinya dengan sehelai tolu atau tudung. Beberapa hari kemudian, ada empat pelancong dari daerah timur yang melintas dan melihat mati air Tupalo tersebut. Begitu melihat air yang jernih dan dingin itu, mereka segera meminumnya karena kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Usai minum, salah seorang di antara mereka melihat ada tudung tergeletak di dekat mata air Tupalo.“Hai, kawan-kawan! Lihatlah benda itu! Bukankah itu tudung?” seru salah seorang dari pelancong itu.“Benar, kawan! Itu adalah tudung,” kata seorang pelancong lainnya.“Aneh, kenapa ada tudung di tengah hutan yang sepi ini?” sahut pelancong yang lainnya dengan heran.Oleh Karena penasaran, mereka segera mendekati tudung itu dan bermaksud untuk menangkatnya. Namun, begitu mereka ingin menyentuh tudung itu, tiba-tiba badai dan angin topan sangat dahsyat datang menerjang, kemudian disusul dengan hujan yang sangat deras. Keempat pelancong itu pun berlarian mencari perlindungan agar terhindar dari marabahaya. Untungnya, badai dan angin topan tersebut tidak berlangsung lama, sehingga mereka dapat selamat.Setelah badai dan hujan berhenti, keempat pelancong itu kembali ke mata air Tupalo. Mereka melihat tudung itu masih terletak pada tempatnya semula. Oleh karena masih penasaran ingin mengetahui benda yang ditutupi tudung itu, mereka pun bermaksud ingin mengangkat tudung itu. Sebelum mengangkatnya, mereka meludahi bagian atas tudung itu dengan sepah pinang yang sudah dimantrai agar badai dan topan tidak kembali terjadi. Betapa terkejutnya mereka ketika mengangkat tudung itu. Mereka melihat sebuah benda bulat, yang tak lain adalah mustika Bimelula. Mereka pun tertarik dan berkeinginan untuk memiliki mustika itu. Namun begitu mereka akang mengambil mustika Bimelula itu, tiba-tiba Mbu`i Bungale datang bersama suaminya, Jilumoto.“Maaf, Tuan-Tuan! Tolong jangan sentuh mustika itu! Izinkanlah kami untuk mengambilnya, karena benda itu milik kami!” pinta Mbu`i Bungale.“Hei, siapa kalian berdua ini? Berani sekali mengaku sebagai pemilik mustika ini!” seru seorang pemimpin pelancong.“Saya Mbu`i Bungale datang bersama suamiku, Jilumoto, ingin mengambil mustika itu,” jawab Mbu`i Bungale dengan tenang.“Hai, Mbu`i Bungale! Tempat ini adalah milik kami. Jadi, tak seorang pun yang boleh mengambil barang-barang yang ada di sini, termasuk mustika ini!” bentak pemimpin pelancong itu.“Apa buktinya bahwa tempat ini dan mustika itu milik kalian?” tanya Mbui`i Bungale.Pemimpin pelancong itu pun menjawab:“Kalian mau lihat buktinya? Lihatlah sepah pinang di atas tudung itu! Kamilah yang telah memberinya,” ujar pemimpin pelancong.Mendengar pengakuan para pelancong tersebut, Mbu`i Bungale hanya tersenyum.“Hai, aku ingatkan kalian semua! Kawasan mata air ini diturunkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa kepada orang-orang yang suka berbudi baik antarsesama makhluk di dunia ini. Bukan diberikan kepada orang-orang tamak dan rakus seperti kalian. Tapi, jika memang benar kalian pemilik dan penguasa di tempat ini, perluaslah mata air ini! Keluarkanlah seluruh kemampuan kalian, aku siap untuk menantang kalian!” seru Mbu`i Bungale.Keempat pelancong itu pun bersedia menerima tantangan Mbu`i Bungale. Si pemimpin pelancong segera membaca mantradan mengeluarkan seluruh kemampuannya.“Wei mata air Kami! Meluas dan membesarlah,” demikian bunyi mantranya.Berkali-kali pemimpin pelancong itu membaca mantranya, namun tak sedikit pun menunjukkan adanya tanda-tanda mata air itu akan meluas dan membesar. Melihat pemimpin mereka sudah mulai kehabisan tenaga, tiga anak buah pelancong tersebut segera membantu. Meski mereka telah menyatukan kekuatan dan kesaktian, namun mata air Tupalo tidak berubah sedikit pun. Lama-kelamaan keempat pelancong pun tersebut kehabisan tenaga. Melihat mereka kelelahan dan bercucuran keringat, Mbu`i Bungale kembali tersenyum.“Hai, kenapa kalian berhenti! Tunjukkanlah kepada kami bahwa mata air itu milik kalian! Atau jangan-jangan kalian sudah menyerah!” seru Mbu`i Bungale.“Diam kau, hai perempuan cerewet! Jangan hanya pandai bicara!” sergah pemimpin pelancong itu balik menantang Mbu`i Bungale. “Jika kamu pemilik mata air ini, buktikan pula kepada kami!”“Baiklah, Tuan-Tuan! Ketahuilah bahwa Tuhan Maha Tahu mana hambanya yang benar, permintaannya akan dikabulkan!” ujar jawab Mbu`i Bungale dengan penuh keyakinan.Usai berkata begitu, Mbu`i Bungale segera duduk bersila di samping suaminya seraya bersedekap. Mulutnya pun komat-kamit membaca doa.“Woyi, air kehidupan, mata air sakti, mata air yang memiliki berkah. Melebar dan meluaslah wahai mata air para bidadari.... membesarlah....!!!” demikian doa Mbu`i Bungale.Usai berdoa, Mbu`i Bungale segera mengajak suaminya dan memerintahkan keempat pelancong tersebut untuk naik ke atas pohon yang paling tinggi, karena sebentar lagi kawasan itu akan tenggelam. Doa Mbu`i Bungale pun dikabulkan. Beberapa saat kemudian, perut bumi tiba-tiba bergemuruh, tanah bergetar dan menggelegar. Perlahan-lahan mata air Tupalo melebar dan meluas, kemudian menyemburkan air yang sangat deras. Dal
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
Hasil (Prancis) 2:[Salinan]
Disalin!
Origine du lac Limboto
Limboto est un lac situé dans le district Limboto District, Gorontalo, Gorontalo Indonésie. Autrefois, le lac est appelé limu o lo Bulalo tutu, ce qui signifie lac d'orange qui vient du ciel. Selon la croyance locale, la présence d'un lac couvrant une superficie d'environ 3.000 hectares est causée par une événements miraculeux survenus dans ce domaine. Quels événements causé le lac Limboto? Suivez l'histoire dans l'histoire de l'origine du lac Limboto ci-dessous!
* * *
Dans le passé, la région Limboto une vaste étendue d'océan. Au milieu, il ya deux haute montagne, et le mont Gunung Boliohuto Tilongkabila. Les deux directions de la montagne est pour les gens qui entreront Gorontalo par mer. Mont Bilohuto indique à l'ouest, tandis que la montagne Tilongkabila montre vers l'est.
À une occasion, la marée est basse, de sorte que la zone a été transformée en le continent. Pas beaucoup plus tard, la zone a été transformée en une vaste étendue de forêt. Dans certains endroits encore de présence visible de l'eau de mer stagnante, et dans certains autres endroits apparaître un panier d'eau douce, qui faisait alors une piscine d'eau douce. Une de ces sources a publié une eau très claire et fraîche. Les ressorts sont situés dans le milieu de la forêt et rarement touché par l'homme est appelé la Fontaine Tupalo. L'endroit est fréquenté par sept nymphes frères du ciel pour se baigner et jouer pulvérisation eau pulvérisée.
Un jour, lorsque le septième ange est absorbée dans le bain et bersendau plaisanter printemps Tupalo Le jeune homme beau nommé Jilumoto passant à cet endroit. Jilumoto dans la langue locale signifie un résident du ciel a visité la terre à incarner. Voyant le septième ange, Jilumoto immédiatement caché derrière un gros arbre. De derrière un arbre, il a remarqué que le septième ange est plongé dans la douche jusqu'à ce que ses yeux ne clignotent pas du tout.
"Ah .... belles jeunes filles qui!" Murmura Jilumoto étonnement.
En voyant la beauté des anges, Jilumoto soudainement soulevé son intention de Prenez une de leurs ailes sont placés sur une grosse pierre, de sorte que le propriétaire des ailes ne peut pas voler au ciel. En faisant cela, alors il peut se marier avec elle. Quand l'ange est absorbée blague bersendau, il se dirigea lentement vers où les ailes sont placés. Après avoir pris avec succès l'une des ailes de l'ange, beau jeune homme se retira derrière un grand arbre.
Quand il était tard dans l'après-midi, le septième ange a terminé la douche et se préparer à aller au ciel. Après la reprise de chaque aile, ils se préparaient à voler dans l'espace. Cependant, l'un d'eux semblait toujours embarrassé de trouver ses ailes.
"Bonjour, Mes frères et sœurs! Voyez-vous des ailes soeur? ".
Apparemment, les ailes d'ange perdus il est l'ange le plus ancien nommé Mbu`i Bungale. Le sixième frère bientôt aidé sa sœur à chercher les ailes manquants. Ils ont été à la recherche de va et vient, mais l'aile n'a pas été trouvée. Parce que la nuit tombait, le sixième ange qui a quitté son frère seul près de la fontaine Tupalo.
"Frère .. Frère rester bien!" Cria le jeune ange.
"Mon frère ...! Ne laissez pas mon frère! "Cria Mbu`i Bungale lors de la visualisation de la sixième frère volait vers le ciel.
Les six sœur ignore ses cris. Bungale Mbu`i vivait seul dans les bois. Son cœur est très triste, parce qu'il ne pouvait pas répondre avec sa famille dans le ciel. Quelques instants plus tard, Jilumoto sortir de la clandestinité et immédiatement approchés Mbu`i Bungale.
"Salut, Angel magnifique! Pourquoi êtes-vous si triste? "Question Jilumoto en faisant semblant de ne pas connaître la vraie
situation." Mes ailes manquants, Bang! Sœur ne peut plus retourner au ciel ", a déclaré Mbu`i Bungale.
Entendre la réponse, sans penser Jilumoto inviter immédiatement Mbu`i Bungale de se marier. Le pauvre ange était prêt à se marier Jilumoto. Après le mariage, ils ont décidé de vivre ensemble sur la terre. Ils étaient à la recherche de terres à cultiver. Après combien de temps la recherche, couple a finalement épousé a été trouvé une colline non loin de la fontaine Tupalo. Au sommet de la colline qu'ils mettent en place une maison simple et ferme en plantant des différents types de plantes qui peuvent être mangés. Ils ont appelé la colline était Huntu lo Ti`opo ou Mount Cotton ..
Un jour, Mbu`i Bungali obtenu un envoi Bimelula, un mustika des œufs de canard du ciel. Bimelula qu'il gardait dans près ressorts Tupalo et le couvrir avec un morceau de Tolu ou le capot. Quelques jours plus tard, il y avait quatre voyageurs de toute la région de l'Est et ont vu l'eau Tupalo morts. Un regard sur le froid, l'eau claire, ils boivent immédiatement en raison de la soif après un long voyage. Après avoir bu, l'un d'eux a vu un capot allongé Tupalo printemps.
"Salut, les gars! Regardez cette chose! Est pas que le capot? »Dit l'un des
voyageurs." Oui, camarade! Il était le capot ", a déclaré un autre
voyageur." Etrange, pourquoi y at-il une hotte au milieu d'une forêt déserte cela? ", A déclaré les autres voyageurs par surprise.
Par curiosité, ils ont immédiatement approché le capot et a l'intention de menangkatnya. Cependant, une fois qu'ils veulent toucher le capot, les tempêtes soudaines et très puissant ouragan vient écraser, suivie par des pluies torrentielles. Le quatrième voyageur courait également pour la couverture pour éviter la détresse. Heureusement, la tempête et l'orage n'a pas duré longtemps, afin qu'ils puissent survivre.
Après la tempête et la pluie a cessé, les quatre voyageurs revenaient aux ressorts Tupalo. Ils voient le capot, il se trouve toujours à sa position d'origine. Par conséquent, toujours curieux de connaître les objets qui recouvraient le capot, ils a également l'intention de lever le voile. Avant de soulever, ils crachent sur ​​le dessus de la hotte avec l'ordure écrou qui a charmé afin tempêtes et des ouragans ne se reproduisent pas. Leur surprise lorsque vous soulevez le capot. Ils ont vu un objet rond, qui est nul autre que mustika Bimelula. Ils étaient intéressés et désireux d'avoir mustika il. Mais une fois qu'ils Akang prendre mustika Bimelula il, soudain Mbu`i Bungale venue avec son mari, Jilumoto.
"Désolé, messieurs! Mustika s'il vous plaît ne le touchez pas! Laissez-nous pour le ramasser, car il appartient à nous! "Plaidé Mbu`i
Bungale." Hey, qui êtes-vous deux avez? Brave fois prétendu être le propriétaire de cette mustika! "Cria un chef
voyageurs." Je suis venu avec mon mari Mbu`i Bungale, Jilumoto, MUSTIKA veulent prendre ", a déclaré Mbu`i Bungale
tranquillement." Salut, Mbu`i Bungale! Cet endroit est le nôtre. Donc, personne ne devrait prendre les choses qui sont ici, y compris mustika! "Snapped le chef des
voyageurs." Quelle est la preuve que cet endroit et MUSTIKA il vous appartient? »Demanda Mbui`i Bungale.
Le chef des voyageurs a répondu :
"Vous voulez voir la preuve? Regardez l'écrou de la malbouffe sur le dessus de la hotte! Il est nous qui lui ont donné ", a déclaré le chef du voyageur.
Heard des voyageurs, Mbu`i Bungale tout
sourit." Salut, je rappelle à tous! Région ce printemps révélée par Dieu Tout-Puissant pour les gens qui aiment la bonne antarsesama créature vertueuse en ce monde. Pas accordée aux personnes avides et cupides comme vous. Mais, si en effet vous êtes le propriétaire et la règle en ce lieu, d'élargir ce printemps! Prenez toutes les capacités que vous les gars, je suis prêt à vous mettre au défi! "Cried Mbu`i Bungale.
Les quatre voyageurs étaient également prêts à accepter le défi Mbu`i Bungale. Les voyageurs leader mantradan émis immédiatement lire toutes ses capacités.
"Wei-nous Springs! Généralisée et membesarlah, "le sort.
Beaucoup de dirigeants de fois que les voyageurs lisent le sort, mais non les moindres montrent des signes de printemps sera agrandie et élargie. Voyant leur chef a commencé à manquer de vapeur, les trois hommes aider immédiatement les voyageurs. Bien qu'ils aient eu à unir la force et la magie, mais ressorts Tupalo pas changé d'un iota. Finalement, les quatre voyageurs ont été épuisés. En les voyant épuisés et en sueur, Mbu`i Bungale un sourire.
"Hey, pourquoi avez-vous arrêté? Montrez-nous que le printemps est le vôtre! Ou peut-être vous avez abandonné! "Cried Mbu`i
Bungale." Tais-toi, femme bourrin! Ne vous contentez pas d'articuler! "A déclaré le chef des voyageurs derrière Mbu`i Bungale difficiles. "Si vous êtes le propriétaire de ce printemps, prouver à nous aussi!"
"Très bien, messieurs! Sachez que Dieu sait où les fonctionnaires étaient vraies, sa demande sera accordée! "Saïd Mbu`i Bungale répondu avec confiance.
Après avoir dit oui, Mbu`i Bungale immédiatement assis jambes croisées à côté de lui alors qu'il traversait. Sa bouche prononçait une prière.
"Woyi, eau de vie, sources sacrées, les ressorts qui ont la bénédiction. Élargis et ressorts meluaslah S des anges .... membesarlah .... !!! "donc Mbu`i Bungale prière.
Après la prière, Mbu`i Bungale invite immédiatement son mari et a ordonné aux quatre voyageurs de monter l'arbre le plus haute, parce que bientôt il va sombrer région. Bungale Mbu`i prière fut exaucée. Quelques instants plus tard, la terre soudain grondait, secousses et les secousses. Lentement ressorts Tupalo élargi et étendu, puis elle éjecte l'eau est très rapide. Dal
Sedang diterjemahkan, harap tunggu..
 
Bahasa lainnya
Dukungan alat penerjemahan: Afrikans, Albania, Amhara, Arab, Armenia, Azerbaijan, Bahasa Indonesia, Basque, Belanda, Belarussia, Bengali, Bosnia, Bulgaria, Burma, Cebuano, Ceko, Chichewa, China, Cina Tradisional, Denmark, Deteksi bahasa, Esperanto, Estonia, Farsi, Finlandia, Frisia, Gaelig, Gaelik Skotlandia, Galisia, Georgia, Gujarati, Hausa, Hawaii, Hindi, Hmong, Ibrani, Igbo, Inggris, Islan, Italia, Jawa, Jepang, Jerman, Kannada, Katala, Kazak, Khmer, Kinyarwanda, Kirghiz, Klingon, Korea, Korsika, Kreol Haiti, Kroat, Kurdi, Laos, Latin, Latvia, Lituania, Luksemburg, Magyar, Makedonia, Malagasi, Malayalam, Malta, Maori, Marathi, Melayu, Mongol, Nepal, Norsk, Odia (Oriya), Pashto, Polandia, Portugis, Prancis, Punjabi, Rumania, Rusia, Samoa, Serb, Sesotho, Shona, Sindhi, Sinhala, Slovakia, Slovenia, Somali, Spanyol, Sunda, Swahili, Swensk, Tagalog, Tajik, Tamil, Tatar, Telugu, Thai, Turki, Turkmen, Ukraina, Urdu, Uyghur, Uzbek, Vietnam, Wales, Xhosa, Yiddi, Yoruba, Yunani, Zulu, Bahasa terjemahan.

Copyright ©2025 I Love Translation. All reserved.

E-mail: